This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Sabtu, 28 Juni 2008
ANEKA TIPS, Menghilangkan Jerawat, Mengecilkan Perut, Ingin Punya Keturunan, Benjol Pada Payudara, Memperbesar Payudara, Disfungsi Ereksi, Bau Mulut
MENGHILANGKAN JERAWAT Memiliki kulit wajah yang mulus merupakan impian bagi tiap orang, tapi tidak semua orang memilikinya. Malah banyak diantaranya yang memilki kulit wajah yng berminyak dan penuh dengan jerawat. Jerawat disebabkan antara lain karena kelebihan minyak, sehingga menimbulkan iritasi pada kulit wajah. Kali ini penulis akan berbagi tips untuk menghilangkan jerawat hanya dengan
Kamis, 12 Juni 2008
Alergi Pada Bayi
· Sering batuk, batuk lama (>2 minggu), pilek, (TERUTAMA MALAM DAN PAGI HARI siang hari hilang) sinusitis, bersin, mimisan. tonsilitis (amandel), sesak, suara serak.
· Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
· Sering lebam kebiruan pada kaki/tangan seperti bekas terbentur.
· Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata, hidung atau telinga. Kotoran telinga berlebihan.
· Nyeri otot & tulang berulang malam hari. Sering kencing, Bed wetting (Ngompol)
· Sering muntah , nyeri perut, SULIT MAKAN disertai berat badan kurang (biasanya setelah umur 4-6 bulan).
· Sering sariawan, lidah sering putih/kotor nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, bibir kering.
· Sering Buang air besar (> 2 kali/hari), sulit buang air besar (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana.
· Tidur larut malam/sering terbangun.
· Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat.Sering berkeringat (berlebihan)
· Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata, mata sering berkedip, memakai kaca mata sejak usia sangat muda (usia 6-12 tahun).
· Gangguan hormonal : tumbuh rambut berlebihadi kaki/tangan, keputihan.
· Sering sakit kepala, migrain.
Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.
· GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
· Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
· Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
· Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
· Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma sebelum usia prasekolah.
· Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
· Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
· Sering berkeringat (berlebihan)
· Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). method="post" action="http://www.feedblitz.com/feedblitz.exe?BurnUser">
Powered by FeedBlitz
Senin, 02 Juni 2008
Nafas Kehidupan

Tubuh manusia ditunjang oleh berbagai aktivitas yang sangat penting untuk kehidupan. Seperti berdenyutnya jantung, pengaturan suhu tubuh, dan sebagainya. Walaupun semuanya sangat penting, ada sebuah aktivitas yang sangat menyatu dalam hidup kita, yaitu nafas.
Sebagaimana disebutkan dalam banyak naskah kuno, nafas jauh lebih penting daripada kelima indera manusia. Manusia tetap dapat hidup walaupun tidak dapat berbicara, atau tidak dapat melihat, atau tidak dapat mendengar, atau tidak dapat mencium bau. Tetapi, tanpa nafas, seorang manusia akan segera mati.
Pranayama sebagai ilmu pengontrolan nafas perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pranayama, aliran nafas masuk dan keluar dari paru-paru diatur sedemikian rupa demi hasil yang terbaik.
Salah satu caranya adalah nafas ditahan pada akhir penarikan dan penghembusan nafas. Penahanan nafas ini hanya boleh dilakukan beberapa saat saja, karena menahan nafas terlalu lama dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan, walaupun penahanan nafas dengan tepat dapat memperbaiki kesehatan.
Sebagaimana disebutkan dalam banyak naskah kuno, nafas jauh lebih penting daripada kelima indera manusia. Manusia tetap dapat hidup walaupun tidak dapat berbicara, atau tidak dapat melihat, atau tidak dapat mendengar, atau tidak dapat mencium bau. Tetapi, tanpa nafas, seorang manusia akan segera mati.
Pranayama sebagai ilmu pengontrolan nafas perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pranayama, aliran nafas masuk dan keluar dari paru-paru diatur sedemikian rupa demi hasil yang terbaik.
Salah satu caranya adalah nafas ditahan pada akhir penarikan dan penghembusan nafas. Penahanan nafas ini hanya boleh dilakukan beberapa saat saja, karena menahan nafas terlalu lama dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan, walaupun penahanan nafas dengan tepat dapat memperbaiki kesehatan.
Minggu, 01 Juni 2008
Bahaya Baby Walker !
* Baby walkers sudah bikin 14,000 anak-anak masuk rumah sakit tiap tahun, dan
* 34 anak-anak sudah menemui ajalnya semenjak tahun 1973 hanya karena baby walkers.
Bahkan AAP lebih jauh lagi mengimbau 'sebuah pelarangan pembikinan dan penjualan baby walkers dengan roda '
Walaupun begitu baby walkers bergerak masih tetep populer.
Anak yang agak besar sepertinya memang menikmatinya, karena meeka memang gampang bosan dengan walkers yang tidak beroda, walaupun yang versi lebih baru yang dilengkapi dengan kincringan dan priwitan segala.
Apakah baby walker membantu bayi agar lebih cepat berjalan ?
Tidak. Sudah dipercaya secara umum bahwa walkers bayi tidak menolong bayi anda untuk berjalan lebih cepat daripada bayi yang enggak memakai walker. Faktanya,sebuah studi pernah dilakukan, berjudul Efek dari baby walkers terhadap perkembangan motorik dan mental bayi manusia, menyimpulkan bahwa 'bayi yang duduk dan mengalami pengalaman menggunakan walkers, merangkak,akan berjalan lebih lambat nantinya daripada yang tidak memakai walkers, dan mereka mempunyai nilai lebih rendah di skor Bayley untuk perkembangan motorik dan mental.'
Studi yang lain, Walkers bayi: alat perkembangan atau bahaya laten, menemukan bahwa 'penggunaan walker bayi tidak berpengaruh terhadap kepiawaian bayi berjalan.'
Jadi senyampang kita bingung apakah aman atau tidak aman menggunakan walker bayi bergerak akan menunda anak anda belajar berjalan,lebih baik alami saja, di tetah.....
Minggu, 23 September 2007
Bathing your baby - cara memandikan bayi yang benar
* Selalu rencanakan ritual mandi bayi anda. Pastikan semuanya siap sebelum mulai memandikan bayi. Ini akan membikin lebih mudah dan aman.
* Kalau anda bisa, turunkan suhu airnya sampai 40 derajad celsius. Ini membikin bayi lebih nyaman. Isilah bak mandinya dengan aer hangat. Selalu test airnya terlebih dahulu dengan lengan atau siku anda. Airnya haruslah hangat dan nyaman, bukan panas.
* Pastikan segala keperluan buat mandi tersedia. Anda bisa menyediakan sabun lembut, bola-bola kapas dan sebuah popok bersih di wadahnya masing-masing. Lalu bawalah wadah yan gsudah berisi peralatan mandi itu dengan handuk dan kain pembilas ke ruangan dimana anda akan memandikan bayi. Kalau semuanya sudah siap, ambillah bayi anda.
* Kalau anda kelupaan suatu barang, anda harus membawa bayi anda untuk mengambil barang yang kelupaan itu. Ini agak susah untuk dilakukan apalagi kalau bayinya masih licin dan basah.
* Jangan pernah meninggalkan bayi anda sendiri di bak mandi.
Sebaiknya tidak usah menjawab telpon masuk atau dering bel di pintu selagi anda memandikan anak. Kalaupun anda mau lakukan itu, ambil bayi anda dan bawa juga bersama anda. Jika pasangan anda, famili atau teman-teman anda sering menelpon anda, kasih tahu mereka jam-jam anda memandikan bayi. Katakan pada mereka bahwa anda tidak akan menjawab telpon atau membukakan pintu selama jam-jam tersebut.
Memandikan bayi anda
Bayi anda pertama-tama akan memrlukan spons pembasuh. Mandikan bayi anda dengan spons pembasuh yang lembut terlebih dahulu sebelum puput tali pusernya atau sembuh luka sunatnya (kalau ada). Setelah itu barulah bayi anda boleh memakai bak mandi.
Isi sebuah ember besar atau wadah air yang besar dengan air hangat: gunakan pergelangan tangan ataupun siku anda untuk memastikan suhu yang tepat. Pastikan airnya tidak terlalu dingin ataupun panas. Air yang masih panas akan sangat berbahaya.
Ambil ember air hangat dan sebuah pembasuh lembut di tempat dimana anda akan memandikan bayi anda.
Ambil tempat buat memandikan bayi yang bersuhu hangat dan jangan di tempat yang banyak anginnya. Tentunya anda tidak mau bayi anda kedinginan. Anda bisa menaruh bayi anda di handuk mandi di permukaan yang datar. Jika anda menaruh bayi anda di atas meja, pastikan tidak akan menggelinding. Jangan tinggalkan bayi anda sendirian sedetik pun, ingat itu!
Copot pakain bayi anda. Celupkan pembilas mandi di air hangat dan peres sampai hanya terasa basah saja. Gunakan pembasuh lembut yang sudah basah itu untuk membasuh tubuh bayi anda dengan pelan dan lembut. Bilas kepala dan lehernya, belakang telinga, dan diantara jari tangan maupun kaki.
Bayi yang baru lahir tidak perlu mandi setiap hari. Cukup bersihkan mukanya, leher dan area perpopokan jikalau mereka kotor.
Lembutlah ketika memandikan bayi anda
* Anda bisa menggunakan bathtub anda, kitchen sink atau bak mandi bayi dari plastik. Gunakan sesuatu untuk membersihkan dan mengelap bak mandi bayi anda biar tidak mudah tergelincir atau kepleset. Jika anda menggunakan busa buat membersihkan bak mandi bayi, itu perlu sering-sering dikeringkan tiap kali selesai digunakan. Ini berguna untuk mencegah perkembangbiakan kuman dan bakteri. Atau anda bisa mengeringkan bak mandi bayi dengan handuk kering. Pastikan cuci dan keringkan handuk itu tiap kali selesai digunakan.
* Gunakan lap pembasuh bayi yang bersih, tanpa sabun, untuk membasuh mukanya. Basuhlah bagian luar dan dalam di tiap-tiap kupingya dan bilas dan keringkan lehernya juga.
* Jangan pernah menggunakan sabun busa atau detergen di air mandi bayi karena bisa menyebabkan ruam dan kulit mengelupas.
* Gunakan bola-bola kapas ataupun cotton pads untuk membersihkan mata bayi anda sebelum menaruhnya di bak mandi. Pastikan anda tahan bagian kepala bayi ketika di dalam bak mandi.
* Basuhlah rambut bayi anda dan bilas dengan penuh kelembutan, gunakan sabun dan shampo khusus bayi. Kerjakan hal ini hanya sekali atau dua kali seminggu saja. Bialslah dengan kain basah. Pastikan tidak ada busa sabun yang masuk mata bayi anda. Basuhlah badannya, dumulai dari bagian dada. Setelah dibersihkan dengan kain lembut, bilaslah kain itu dan gunakan sekali lagi untuk membilas bayi. Keringkan bayi anda dengan handuk kering lembut dan bersih. Selalu pastikan dia tertutup. Pastikan bayi anda selalu hangat dan kering dengan menyelimutinya dengan handuk bersih setelah dimandikan.
Selasa, 21 Agustus 2007
Mengurangi Ketergantungan Terhadap Susu Formula
Masalah yang dilontarkan Bung Zaim dan Mbak Karlina memang tidak dapat dengan penyelesaian jangka pendek dan hanya sepihak saja. Banyak instansi baik pemerintah maupun non pemerintah terkait di sana. Keduanya memandang dari sudut yang berbeda, dan juga tidak ada yang salah. Pengetahuan mbak Karlina akan ASI tidak perlu disangsikan lagi, bahkan beliau pendukung ASI sejak gerakan ASI belum dicanangkan. Hanya bagaimana alternatif penyelesaiannya itulah yang menjadi tanggung jawab mereka yang peduli akan terbentuknya generasi suatu bangsa yang sehat dan cerdas di masa depan. Mungkin dalam jangka pendek yang diharapkan adalah turunnya harga susu dengan segera, tetapi permasalahan tidak menjadi selesai karenanya. Masyarakat luas pada umumnya tetap tinggi ketergantungan akan susu formula.

Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini yang dirasakan berat bahkan sangat berat oleh banyak pihak, antara lain dengan membumbungtingginya harga susu formula. Aksi yang digelar oleh Ibu-ibu Peduli, memang merupakan "nurani Ibu yang dipenuhi cinta universal, sehingga menjadikan derita orang lain menjadi bagian dari kisah hidupnya", sehingga sidang kasus Karlina yang diliput oleh wartawan dalam dan luar negri itu, sempat menarik banyak simpatisan. Sementara tulisan Bung Zaim yang mewakili "Bapak-bapak pendukung Gerakan ASI", mungkin ada yang hanya membacanya selintas, bahkan mungkin segera terlupakan. Padahal masalah keduanya adalah sama bahwa ketergantungan Ibu akan susu formula cenderung tinggi. Sehingga ketika susu formula hilang dipasar dan kemudian muncul dengan harga tinggi, banyak ibu yang menjerit.
Kelompok- kelompok yang memerlukan susu
Pertama, yaitu ibu-ibu yang sepenuhnya menyusui anaknya dengan ASI tanpa diselingi susu formula dalam jangka waktu yang cukup bagi si anak untuk dihentikan pemberian ASI-nya. Bagi golongan ini tidak perlu diganggu gugat, bahkan diberi penghargaan dari masyarakat terhadap "tekad"nya itu. Mungkin yang dirasakan berat saat ini bagi mereka adalah untuk mendapatkan makanan bergizi sehingga kualitas ASI yang dihasilkanpun cukup baik. Ketergantungan mereka akan susu formula dapat dikatakan tidak ada. Rasanya merekapun tidak menjadi ikut panik ketika susu formula hilang dipasaran. Demikian pula susu formula bagi ibu menyusui, dapat digantikan dengan bahan alami lainnya.
Kedua, adalah ibu-ibu yang digambarkan mbak Karlina sebagai bekerja sebagai pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan soal makan atau tidak makan. Untuk kelompok ibu-ibu ini bukan mereka tidak sadar atau tidak tahu pentingnya ASI, bahkan kadang sembunyi-sembunyi untuk mengeluarkan ASInya di WC kantor. Susu formula adalah alternatif tercepat yang mereka pilih untuk mengatasi kebutuhan si bayi selama mereka bekerja apalagi mereka yang harus dinas luar kota selama beberapa hari misalnya. Selanjutnya apa yang dikemukan mbak Karlina bahwa setelah mereka berada di rumah, sesegera mungkin dan selama mungkin menyusui anak dengan ASI, bahkan kalau perlu "sepanjang malam". Pada kenyataannya dan didukung hasil-hasil penelitian serta tulisan -tulisan ilmiah, hal itu tak baik untuk dilakukan.
Bayi yang normal cukup 5-6 kali sehari mendapat ASI dengan waktu masing-masing pemberian ASI 10-20 menit dan tidak bisa dikompensasi sekaligus misalnya dengan. sepanjang malam atau selama mungkin karena sang Ibu pun perlu istirahat, untuk dapat berproduksi ASI lagi keesokan harinya dan si bayi tidak dibiasakan "mengempeng", dari dada ibu yang tak mengeluarkan ASInya lagi. Berdasarkan suatu penelitian ilmiah pula bahwa ibu-ibu yang capai bekerja, apalagi stress di tempat kerja atau dalam perjalanan pulang dan pergi ke tempat kerja, dapat mempengaruhi produktivitas ASInya. Hormon "Adrenalin" yang dapat terbentuk karena sang ibu mengalami stress atau kerja berat akan menghambat atau setidaknya mengurangi keluarnya ASI. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika ketika pulang kantor si bayi hanya dapat tercukupi dengan satu atau dua kali ASI saja.
Pada kelompok ibu-ibu ini perlu diberikan hak-hak yang lebih baik, disamping kerelaan si ibu juga untuk membagi hak gajinya yang berkurang. Di Jerman di negara yang saat ini penulis bermukim di kenal "cuti pendidikan anak (erziehungurlaub)" selama 18 bulan. Ibu-ibu yang bekerja diperusahaan atau kantor-kantor tidak akan kehilangan kursi ketika ia masuk lagi, karena selama ia cuti ada yang menggantikannya. Hanya saja gajinya tidak diterima penuh karena perlu dibagi untuk penggantinya selama ia cuti. Tapi mereka menikmati cuti tersebut untuk sepenuhnya menyusui anaknya dan ketika ditinggalkan untuk kembali bekerja anak-anak mereka sudah tidak lagi tergantung ASI juga tidak pada susu formula, karena mereka sudah mendapat asupan yang lengkap seperti halnya manusia dewasa.
Hal lain adalah membagi waktu kerja "part time". Bagi mereka yang mempunyai bayi (di sana sampai usia 5-6 bulan disarankan ASI sepenuhnya). Tentu saja konsekwensinya pun ibu-ibu tersebut harus rela gajinya berbagi dengan teman kerjanya. Hal ini bukan saja berdampak positif bagi kelangsungan pemberian ASI, juga membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi ibu-ibu yang tergolong kelompok ini dan tidak sedang adalam masa menyusui anak. Hal ini perlu juga diupayakan menjadi undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia misalnya. Tidak saja Instansi ketenagakerjaan ataupun kesehatan yang ikut mengupayakannya, rasanya Menteri UPW yang akan datang pun diharapkan dapat menggolkan hak-hak ibu yang bekerja menjadi lebih baik, tidak hanya menambah jumlah lapangan dan kesempatan kerja bagi wanita. Dengan ini ketergantungan akan susu formula pun dapat dikurangi.
Pemberian ASI di tempat kerja juga suatu alternatif mengurangi ketergantungan akan susu formula, tetapi jika tempat kerja jauh dari rumah, sementara di sana tidak ada tempat penitipan anak, dengan siapa si bayi selama ibu bekerja?. Imbauan mbak Karlina untuk para bapak agar mampir ke tempat istrinya pada saat istirahat untuk mengantar ASI yang dibotolkan juga, rasanya kurang relevan. Berapa jauh jarak yang ditempuh sang bapak dan berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari untuk ke sana ke sini menjemput dan mengantar ASI. Pembotolan ASI pun bukan satu alternatif yang paling baik, karena seperti diungkapkan mbak Karlina sendiri adanya kedahsyatan hubungan psikhologis antara ibu dan anak ketika si anak berada dalam dekapan dan menyusu dari payudara ibunya. Selain itu segi sanitasi dan kontaminasi ASI selama dalam botol sulit juga pengupayaannya, apalagi kalau harus dibawa ke sana kemari. Dulu penulis pernah berupaya mencari tempat tinggal dekat tempat bekerja, sehingga sewaktu-waktu dapat pulang untuk memberikan ASInya. Tetapi sulit untuk mendapat keadaan seperti itu sekarang, apalagi di kota-kota besar.
Ketiga, adalah kelompok ibu yang oleh mbak Karlina sebagai memilih bekerja sebagai soal makan atau tidak makan. Ibu-ibu yang ingin mendekap anaknya tapi tidak mempunyai pilihan. Mereka pun jangan dijadikan "korban" penggunaan susu formula. Bagi masyarakat kelas ekonomi rendah (para buruh harian misalnya), jangankan ketika harga susu formula melangit, ketika masih normalpun tidak terjangkau oleh mereka. Mereka memberikan alternatif-alternatif lain sebagai penggantinya, antara lain air tajin yaitu air godokan beras (seperti yang pernah diberikan ibu penulis ketika kecil). Pada kelompok ini yang harus diperjuangkan adalah "penerangan gizi yang baik dan benar". Gizi yang baik dan benar tidak hanya diperoleh melalui susu formula. Jadi gerakan-gerakan posyandu oleh ibu-ibu PKK maupun tim-tim kesehatan pun sebaiknya tidak memberikan susu-susu contoh pada kegiatannya ataupun seperti yang diistilahkan Bung Zaim sebagai suatu "medikalisasi", dengan mudahnya rumah-rumah sakit memberikan "susu contoh berupa susu formula". Maka dalam hal ini Instansi-instansi kesehatan juga organisasi-organisasi masyarakat dapat turut serta menggalakkan pengurangan ketergantungan akan susu formula. Suatu kejadian yang ironis, jika seorang yang bekerja menggerakkan kegiatan kembali pada ASI, tetapi bersamaan dengan itu, anaknya di rumah ditinggalkan dengan botol yang berisi susu formula.
Upaya lain yang dapat dilakukan pada kelompok ini seperti pada kelompok ke dua di atas, yaitu memberikan hak-hak yang lebih baik bagi ibu yang bekerja di pabrik-pabrik misalnya. Cuti yang tiga bulan itu diberikan, dengan tetap memberikan upah walaupun tidak penuh. Jadi Para pengusahapun harus mau ikut bertanggungjawab memikirkan hari depan generasi akan datang yang terbentuk antara lain dari pemenuhan kebutuhan fisiknya ketika masa bayi melalui pemberian hak yang wajar bagi para ibu-ibu yang bekerja, tidak hanya memeras tenaganya saja. Pesan "moral" di sini sepatutnya cukup dihiraukan. Alternatif lain seperti yang disarankan mbak karlina, mengupayakan adanya tempat penitipan anak di lingkungan pabrik. Sehingga ibupun dapat tenang dan berproduksi optimal. Tapi dalam keadaan seperti sekarang ini sulit untuk kedua hal di atas sulit untuk segera diterapkan oleh perusahaan atau pabrik tempat ibu-ibu tersebut bekerja.
Keempat, adalah kelompok ibu-ibu yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban menyusui anaknya berdasarkan "keinginan sendiri", antara lain mereka yang enggan memberikan ASI karena akan kehilangan sebagian daya tarik seksualnya, karir akan terhambat atau repot karena urusan bisnis. Mungkin kelompok inilah konsumen terbesar akan susu formula. Dalam keadaan ekonomi sekarang ini mereka pun tidak terlalu banyak terguncang, harga tinggi tidak menjadi masalah, yang penting susu formula tersedia di pasaran.
Inilah kelompok ibu-ibu yang perlu diberi pengertian lebih mendalam akan pentingnya ASI dan "manajemen laktasi"nya. Juga suatu kesadaran bahwa pengambilan keputusan untuk melahirkan anak, disertai tanggungjawab memenuhi kebutuhan si bayi akan ASI yang menjadi haknya. Ketuklah hati mereka lebih dalam bahwa kembalinya mereka pada ASI akan memberi dampak positif bagi masyarakat pada umumnya. Dengan memberi contoh memborong susu formula hanya akan menimbulkan dampak negatif saja, terutama bagi golongan mereka yang tak mampu untuk membelinya.
Kelima, adalah kelompok ibu-ibu yang karena sakit atau bahkan meninggal saat bayinya masih memerlukan ASI, antara lain bayi-bayi yang berada di panti asuhan. Memberikan pengganti ibu pemberi ASI bukan suatu jalan keluar bahkan kemungkinannya sangat kecil. Demikian juga pemberian susu formula bukan satu-satunya alternatif yang dapat diambil. Sumbangan berkaleng-kaleng susu pada mereka tidak memecahkan masalah, apalagi jika keadaan seperti sekarang ini, dikala sumbangan menurun frekwensinya, maka sulitlah mereka mencari susu pengganti karena sudah terbiasa akan prosuk susu formula. Alangkah lebih baik sumbangan itu dikonkritkan dengan lemari pendingin atau alat-alat sterilisasi sederhana, sehinggga panti-panti asuhan mampu menyiapkan susu pengganti dari susu sapi segar yang harganya relatif masih lebih rendah dari susu formula.
Di samping itu diberikan penerangan yang sebaik-baiknya bagaimana perlakuan terhadap susu segar itu, juga penerangan gizi yang memadai untuk mencukupi kebutuhan gizi si bayi yang perlu dilengkapi dari bahan-bahan alami lainnya. Ini memang menambah pekerjaan bagi pengurus panti asuhan, tetapi dengan kesadaran semua pihak, bahwa kekurangan gizi tidak hanya bisa dicukupi dengan susu formula, maka pekerjaan itu selanjutnya akan tertangani.
Keenam, adalah kelompok balita yang sudah melampaui masa mendapatkan ASI, tetapi tetap membutuhkan susu. Memang betul pertumbuhan kecerdasan mereka akan ditunjang oleh kecukupan gizi yang baik.
Bukankah susu dalam ilmu gizi sebagai bahan penyempurna setelah bahan lainnya (ingat ! 4 sehat 5 sempurna) Memang dalam susu terutama susu formula tersedia semua bahan-bahan essensial yang dibutuhkan tubuh. Akan tetapi apakah dengan meminum susu saja cukup? Bahkan jika terlalu banyak susu pun anak menjadi kegemukan (obesitas), dan akan lamban dalam beraktivitas. Hal lain, pemenuhan susu sebagai penyempurna itupun tidak harus berasal dari susu formula. Jika kebutuhan susu dipenuhi dengan susu segar, dan kebutuhan lainnya dari makanan alami yang kita konsumsi sehari-hari. Maka ketergantungan akan susu formula bagi si anakpun dapat dikurangi dengan tidak menjadikan sinak sebagai anak yang kurang gizi.
Banyak alternatif lain untuk mencukupi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral bagi si anak, antara lain memasyarakatkan konsumsi sayuran dan buah bagi anak-anak. Karena di sanalah sumber vitamin dan mineral yang sering diunggulkan oleh berbagai produk susu formula dalam "fortifikasinya". Asam lemak tak jenuh dapat diperoleh dari minyak yang berasal dari tumbuh.tumbuhan. Sedangkan enzim-enzim yang juga diiklankan susu formula dapat diganti dari bahan-bahan alami yang dimakan sehari-hari.
Sekali lagi penerangan gizi yang baik ternyata perlu disebarkan ke seluruh masyarakat, baik dari lapisan kelas ekonomi rendah sampai yang tinggi sekalipun. Karena kadang-kadang justru anak-anak dari mereka yang tergolong kelas ekonomi tinggi dengan mudahnya membeli makanan-makanan jajanan (misalnya Fast food), yang kadangkala masih harus dipertanyakan nilai gizinya.
Upaya Bersama untuk Menurunkan Ketergantungan Susu Formula
Pengalaman yang dirasakan penulis dan juga pengamatan yang dilakukan selama beberapa tahun bermukim di suatu negara yang tingkat ekonominya boleh dikatakan lebih maju, penggunaan susu formula bagi sebagian ibu banyak dijauhi, mereka lebih senang kembali ke bahan-bahan alami yang diolah sekedarnya (susu pasteurisasi). Hanya mereka-mereka yang "terpaksalah" menggunakannya. Padahal daya beli mereka masih cukup untuk memberikan susu formula bagi anaknya. Di bawah ini penulis ingin mengemukakan beberapa contoh gerakan ASI yang menyeluruh dari semua pihak.
Di rumah-rumah sakit, bagi ibu yang melahirkan segera bayinya dalam keadaan masih merah (belum dimandikan) segera diberikan pada dekapan sang ibu. Setelah si ibu berisirahat sejenak, si bayi segera diserahkan kembali untuk mengisap puting susu ibunya, sehingga ASI akan cepat terangsang keluar. Jika ASI belum keluar (seperti yang dialami penulis sampai hari ke2), si bayi tidak segera diberi susu botol tapi sementara diberi dulu teh berasal dari tumbuhan (Fenchel, Kamille dsb), kalau dirasa kurang kalori, diberi tambahan gula sedikit. Usaha mengenalkan si bayi akan susu selain ASI dihindari sejauh mungkin.
Susu-susu contoh yang berupa susu formula tidak diberikan atau diiklankan di rumah sakit ketika si pasien pulang, kecuali dalam hal-hal tertentu. Dinas-dinas kesehatan baik pemerintah maupun non-pemerintah juga organisasi-organisasi kemasyarakan dan keagamaan, menyebarkan brosur-brosur yang berkenaan dengan ASI. Bahkan bagi mereka yang menemui kesukaran dalam memberikan ASI bagi bayinya, ada grup-grup sosial yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Para pengusaha susu formula mengiklankan produknya melalui salesman yang datang dari rumah ke rumah atau di dalam brosur-brosur khusus bagi Ibu dan Anak, yang mereka keluarkan sendiri. Sedikit sekali dijumpai dalam majalah atau koran-koran secara umum.
Gerakan penggunaan ASI, disadari oleh semua pihak dan dilakukan di mana-mana. Dokter-dokter anak sangat menekankan si Ibu untuk memberikan ASInya. Media massa audio visual, termasuk TV jarang mengiklankan susu formula. Bahkan rasanya dari channel TV yang dapat ditangkap oleh penulis, tidak ada yang mengiklankannya.
Susu segar banyak menjadi pilihan konsumen. Karena mereka menganggap kandungan gizinya lebih alami. Bahkan di beberapa supermaket yang melayani kebutuhan sehari-hari, tidak ditemukan produk-produk susu formula. Susu tersebut hanya di dapat di rumah-rumah obat, apotik-apotik dan beberapa supermaket besar, itupun dalam jumlah terbatas.
Memang mengurangi ketergantungan terhadap susu formula harus melalui jalan yang panjang, termasuk peranan pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sapi perah hingga tercukupinya kebutuhan masyarakat. Mungkin yang perlu diberi subsidi atau insentif tertentu adalah peternak-peternak sapi, kemudian juga mempermudah pendistribusian susu segar sampai ketangan konsumen termasuk pengupayaan penanganan susu segar kepada seluruh lapisan masyarakat. Hingga nantinya mereka yang membutuhkan susu tinggal cari di kios atau toko terdekat dengan harga yang terjangkau.
Untuk sementara mungkin sebagian hal yang ideal di atas masih suatu impian, tetapi dengan kerja keras dan kepedulian banyak pihak, persoalan ketergantungan akan susu formula dapat dikurangi. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak semua pihak turut memikirkan gaung yang telah diperdengarkan melalui aksi Suara Ibu Peduli, tentu saja untuk mencari jalan pemecahannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan itu baiknya kita mulai dari diri sendiri.
Oleh: Mira Suprayatmi
Senin, 09 Juli 2007
Bumbu Tradisional untuk Obat Balita Anda !
Air Kelapa Muda & Kopi
Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekehendak anak. Dicampur dengan sedikit kopi (seujung sendok saja)
Brotowali (Putrawali, andawali)
Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies). Caranya, 2-3 jari batang brotowali dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama 1/2 jam. Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.
Jeruk Nipis
Untuk mencairkan dahak dan obat batuk anak. Caranya, campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. Takaran minum bayi antara usia 6-1 tahun : 2 kali 1/2 sdt ; anak 1-3 tahun : 2 kali 1 sdt; anak 4-5 tahun : 2 kali 1 1/2 sdt.
Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, taruh dalam gelas /cangkir. Tambahkan kecap manis, aduk. Takaran minum untuk anak, 3 kali 1 sdt per hari.
Kentang
Untuk obat bisul. Caranya, parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kendtang segar dioleskan pada bisul 3-4 kali per hari Bisa pula untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet (miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan.
Banglai (bangle, panglai, manglai, pandhiyang)
Untuk menenangkan bayi dan anak yang sering rewel pada malam hari, balurkan parutan banglai segal di kening dan badan anak.
Minyak zaitun
Untuk mengobati kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap), sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.
Lidah buaya
Untuk mengobati luka bakar pada bayi dan anak. Caranya dengan mengoleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang menderita luka bakar.
Daun pepaya
Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, menyembuhkan penyakit malaria, panas,beri-beri dan kejang perut. Caranya, daun pepaya muda ditumbuk, diperas, saring, lalu minum airnya.
Temulawak (koneng gede)
Untuk menambah nafsu makan. Caranya, 150 gram temulawak 50 gram kunyit segar dikupas, iris tipis, rendam dalam 500 cc madu kapuk dalam toples tertutup selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ramuan siap untuk digunakan.Aturan minum 1 sendok makan madu temulawak dilarutkan dalam 1/2 cangkir air hangat, diminum pagi dan sore.
Kencur
Untuk meringankan batuk pada anak. Caranya, 5 gram kencur segar dicuci bersih, parut, lalu tambahkan 2 sdm air putih matang dan diaduk. Setelah disaring, tambahkan 1 sdm madu murni. Berikan 2-3 kali sehari.
Adas (fennel)
Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik, caranya 1sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut. Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai umurnya.
Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekehendak anak. Dicampur dengan sedikit kopi (seujung sendok saja)
Brotowali (Putrawali, andawali)
Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies). Caranya, 2-3 jari batang brotowali dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama 1/2 jam. Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.
Jeruk Nipis
Untuk mencairkan dahak dan obat batuk anak. Caranya, campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. Takaran minum bayi antara usia 6-1 tahun : 2 kali 1/2 sdt ; anak 1-3 tahun : 2 kali 1 sdt; anak 4-5 tahun : 2 kali 1 1/2 sdt.
Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, taruh dalam gelas /cangkir. Tambahkan kecap manis, aduk. Takaran minum untuk anak, 3 kali 1 sdt per hari.
Kentang
Untuk obat bisul. Caranya, parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kendtang segar dioleskan pada bisul 3-4 kali per hari Bisa pula untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet (miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan.
Banglai (bangle, panglai, manglai, pandhiyang)
Untuk menenangkan bayi dan anak yang sering rewel pada malam hari, balurkan parutan banglai segal di kening dan badan anak.
Minyak zaitun
Untuk mengobati kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap), sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.
Lidah buaya
Untuk mengobati luka bakar pada bayi dan anak. Caranya dengan mengoleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang menderita luka bakar.
Daun pepaya
Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, menyembuhkan penyakit malaria, panas,beri-beri dan kejang perut. Caranya, daun pepaya muda ditumbuk, diperas, saring, lalu minum airnya.
Temulawak (koneng gede)
Untuk menambah nafsu makan. Caranya, 150 gram temulawak 50 gram kunyit segar dikupas, iris tipis, rendam dalam 500 cc madu kapuk dalam toples tertutup selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ramuan siap untuk digunakan.Aturan minum 1 sendok makan madu temulawak dilarutkan dalam 1/2 cangkir air hangat, diminum pagi dan sore.
Kencur
Untuk meringankan batuk pada anak. Caranya, 5 gram kencur segar dicuci bersih, parut, lalu tambahkan 2 sdm air putih matang dan diaduk. Setelah disaring, tambahkan 1 sdm madu murni. Berikan 2-3 kali sehari.
Adas (fennel)
Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik, caranya 1sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut. Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai umurnya.


20.41
Unknown