Jumat, 28 April 2006

Bahaya Antibiotik!

"Penderita yang sering berobat di Indonesia bila berobat di luar negeri (terutama di negara maju) sering khawatir, karena bila sakit jarang diberi antibiotika. Sebaliknya pasien yang sering berobat di luar negeri juga sering khawatir bila berobat di Indonesia, setiap sakit selalu mendapatkan antibiotika". Hal ini bukan sekedar pameo belaka. Tampaknya banyak fakta yang mengatakan bahwa memang di Indonesia, dokter lebih gampang memberikan antibiotika.

Penggunaan antibiotika irasional atau berlebihan pada anak tampaknya memang semakin meningkat dan semakin mengkawatirkan. Penggunaan berlebihan atau penggunaan irasional artinya penggunaan tidak benar, tidak tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya. Sebenarnya permasalahan ini dahulu juga dihadapi oleh negara maju seperti Amerika Serikat.

Menurut penelitian US National Ambulatory Medical Care Survey pada tahun 1989, setiap tahun sekitar 84% setiap tahun setiap anak mendapatkan antibiotika. Hasil lainnya didapatkan 47,9% resep pada anak usia 0-4 tahun terdapat antibiotika. Angka tersebut menurut perhitungan banyak ahli sebenarnya sudah cukup mencemaskan. Dalam tahun yang sama, juga ditemukan resistensi kuman yang cukup tinggi karena pemakaian antibiotika berlebihan tersebut.

Di Indonesia belum ada data resmi tentang pengguanaan antibiotika ini. Sehingga semua pihak saat ini tidak terlalu. Berdasarkan tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat serta fakta yang ditemui sehari-hari, tampaknya pengguanaan antibiotika di Indonesia baik jauh lebih banyak dan lebih mencemaskan.

Bahaya Penggunaan Antibiotika Irasional Pada Anak
Sebenarnya penggunaan antibiotika secara benar dan sesuai indikasi memang harus diberikan. Meskipun terdapat pertimbangan bahaya efek samping dan mahalnya biaya. Tetapi menjadi masalah yang mengkawatirkan, bila penggunaannnya berlebihan. Banyak kerugian yang terjadi bila pemberian antibiotika berlebihan tersebut tidak dikendalikan secara cepat dan tuntas.

Kerugian yang dihadapi adalah meningkatnya resistensi terhadap bakteri. Belum lagi perilaku tersebut berpotensi untuk meningkatkan biaya berobat. Harga obat antibiotika sangat mahal dan merupakan bagian terbesar dari biaya pengobatan.

Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotika adalah gangguan beberapa organ tubuh. Apalagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Apalagi anak beresiko paling sering mendapatkan antibiotika, karena lebih sering sakit akibat daya tahan tubuh lebih rentan. Bila dalam setahun anak mengalami 9 kali sakit, maka 9 kali 7 hari atau 64 hari anak mendapatkan antibiotika.

Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya. Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis.

Pemakaian antibiotika berlebihan atau irasional juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh Namur atau disebut "superinfection". Pemberian antibiotika yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut "superbugs".

Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan Antibiotika yang ringan, apabila antibiotikanya digunakan dengan irasional, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis antibiotika yang lebih kuat. Bila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis antibiotika yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal ini akan membuat kembali ke zaman sebelum antibiotika ditemukan. Pada zaman tersebut infeksi yang diakibatkan oleh bakteri tidak dapat diobati sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik. Hal lain yang mungkin terjadi nantinya kebutuhan pemberian antibiotika dengan generasi lebih berat, dan menjadikan biaya pengobatan semakin meningkat karena semakin harganya mahal.

Indikasi Pemakaian Antibiotika
Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah bila batuk dan pilek berkelanjutan selama lebih 10 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari).

Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan
wajah. Pilihan pertama pengobatan antibiotika untuk kasus ini cukup dengan pemberian Amoxicillin, Amoxicillinm atau Clavulanate. Bila dalam 2 – 3 hari membaik pengobatan dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 – 14 hari.

Bila batuk dan pilek yang berkelanjutan yang terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, bengkak di sekitar mata dan wajah. Pilihan pertama pengobatan antibiotika untuk kasus ini cukup dengan pemberian Amoxicillin, Amoxicillinm atau Clavulanate.

Bila dalam 2 – 3 hari membaik pengobatan dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 – 14 hari. Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus.

Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Bila sakit batuk dan pilek timbul sepanjang hari (bukan hanya malam dan pagi hari) lebih dari 10-14 hari disertai cairan hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, dilakukan pemeriksaan sample urin dan kemudian di lakukan pemeriksaan kultur di rumah sakit. Setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya dan sensitivitas terhadap jenis obatnya.

Penyakit yang lain yang harus mendapatkan antibiotika adalah infeksi saluran kemih dan penyakit tifus Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur darah atau urine. Apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, dilakukan pemeriksaan kulut curine. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotika. Untuk mengetahui penyakit tifus harus dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gal.

Anak usia di bawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus sering mengalami overdiagnosis penyakit Tifus. Sering terjadi kesalahan persepsi dalam pembacaan hasil laboratorium. Infeksi virus dengan peningkatan sedkit pemeriksaan nilai widal sudah divonis gejala tifus dan dihantam dengan antibiotika.

Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak penyebabnya adalah virus. Dengan kata lain seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 – 15% penderita anak. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk "self limiting disease" atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 – 7 hari.

Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus. Secara umum setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus. Sebaiknya jangan terlalu mudah mendiagnosis (overdiagnosis) sinusitis pada anak. Bila tidak terdapat komplikasi lainnya secara alamiah pilek, batuk dan pengeluaran cairan hidung akan menetap paling lama sampai 14 hari setelah gejala lainnya membaik.

Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 anak penderita pilek(flu) karena virus didapatkan bahwa pemberian antibiotik pada kelompok kontrol tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung. Antibiotika tidak efektif mengobati Infeksi saluran napas Atas dan tidak mencegah infeksi bakteri tumpangan. Sebagian besar infeksi Saluran napas Atas termasuk sinus paranasalis sangat jarana sekali terjadi komplikasi bakteri.

Siapa Yang Bertanggung Jawab
Dalam permasalahan penggunaan antibiotika yang berlebihan ini, pihak manakah yang bertanggung jawab untuk mengatasinya. Permasalahan ini tidak sesederhana seperti yang kita lihat. Banyak pihak yang berperanan dan terlibat dalam penggunaan antibiotika berlebihan ini. Pihak yang terlibat mulai dari penderita (orang tua penderita), dokter, rumah sakit, apotik, sales representatif, perusahaan farmasi dan pabrik obat.

Bila penggunaan antibiotika berlebihan lebih dikarenakan faktor dokter, maka orang tua sebagai penerima jasa dokter dalam keadaan posisi yang sulit. Tetapi orang tua penderita sebagai pihak pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya rencana pengobatan, tujuan pengobatan dan akibat efek samping pengobatan tersebut Kalau perlu orang tua sedikit berdiskusi dengan cara bukan menggurui untuk peluang apakah boleh tidak diberi antibiótica.

Dilain pihak, orangtua juga sering sebagai faktor terjadinya penggunaan antibiotika yang berlebihan. Pendapat umum yang tidak benar terus berkembang, bahwa kalau tidak memakai antibiotika maka penyakitnya akan lama sembuhnya Tidak jarang penggunaan antibiótika adalah permintaan dari orang tua. Yang lebih mengkawatirkan saat ini beberapa orang tua dengan tanpa beban membeli sendiri antibiótika tersebut tanpa pertimbangan dokter. Antibiotika yang merupakan golongan obat terbatas, obat yang harus diresepkan oleh dokter. Tetapi runyamnya ternyata obat antibiotika tersebut mudah didapatkan di apotik atau di toko obat meskipun tanpa resep dokter.

Persoalan menjadi lebih rumit karena ternyata bisnis perdagangan antibiotika sangat menggiurkan. Pabrik obat, perusahaan farmasi, medical sales representative dan apotik sebagai pihak penyedia obat mempunyai banyak kepentingan. Antibiotika merupakan bisnis utama mereka, sehingga banyak strategi dan cara dilakukan. Dokter sebagai penentu penggunaan antibiotika ini, harus lebih bijak dan harus lebih mempertimbangkan latar belakang ke ilmiuannya. Sesuai sumpah dokter yang pernah diucapkan, apapun pertimbangan pengobatan semuanya adalah demi kepentingan penderita, bukan keperntingan lainnya. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan secara berkala dan berkelanjutan dokter juga ikut berperanan dalam mengurangi perilaku penggunaan antibiótika yang berlebihan ini.

Departemen Kesehatan (Depkes), Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Ikatan dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan beberapa intitusi terkait lainnya harus bekerjasama dalam penanganannya. Pendidikan tentang bahaya dan indikasi pemakaian antibiotika yang benar terhadap masyarakat harus terus dilakukan melalui berbagai media yang ada. Penertiban penjualan obat antibiotika oleh apotik dan lebih khusus lagi toko obat harus terus dilakukan tanpa henti.

Organisasi profesi kedokteran harus terus berupaya mengevaluasi dan melakukan pemantauan lebih ketat tentang perilaku penggunaan antibiótika yang berlebihan ini terhadap anggotanya. Kalau perlu secara berkala dilakukan penelitian secara menyeluruh terhadap penggunaan antibitioka yang berlebihan ini. Sebaiknya praktek dan strategi promosi obat antibiotika yang tidak sehat juga harus menjadi perhatian. Bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan dokter, meskipun hanya demi kepentingan kegiatan ilmiah. PERSI sebagai wadah organisasi rumah sakit, juga berwenang memberikan pengawasan kepada anggotanya untuk terus melakukan evaluasi yang ketat terhadap formularium obat yang digunakan.

Di Amerika Serikat, karena upaya kampanye dan pendidikan terus menerus terhadap masyarakat dan dokter ternyata dapat menurunkan penggunaan antibiotika secara drastis. Proporsi anak usia 0 – 4 tahun yang mendapatkan antibiotika menuirun dari 47,9% tahun 1996 menjadi 38,1% tahun 2000. Jumlah rata-rata antibiótika yang diresepkan menurun, dari 47.9 1.42 peresepan per anak tahun 1996 menjadi 0.78 peresepan per anak tahun 2000. Rata-rata pengeluaran biaya juga dapat ditekan cukup banyak, padfa tahun 1996 sebesar $31.45 US menjadi $21.04 per anak tahun 2000.

Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri

Upaya ini seharusnya menjadi contoh yang baik terhadap intitusi yang berwenang di Indonesia dalam mengatasi permasalahan penggunaan antibiotika ini. Melihat rumitnya permasalahan pemberian antibiotika yang irasinol di Indonesia tampaknya sangat sulit dipecahkan. Tetapi kita harus yakin dengan kemauan keras, niat yang tulus dan keterlibatan semua pihak maka permasalahan ini akan dapat terpecahkan. Jangan sampai terjadi, kita semua baru tersadar saat masalah sudah dalam keadaan yang sangat serius.





Senin, 10 April 2006

Vaksin MMR

Dengan Hormat,

Jujur saya dipusingkan dengan dua pendapat yang bertentangan tentang vaksin MMR. Sebagian berpendapat bahwa MMR pemicu Authisme sedangkan yang sebagian berpendapat sebaliknya.

Dua minggu yang lalu saya memberikan vaksin kepada anak saya yang berumur 4.5 th. Ketika melihat catatan kesehatan di buku, dokter anak kami kaget mengapa anak saya belum di berikan MMR. Saya agak berat menjawab walaupun sepatah kata yang keluar belum lengkap dokter yang bersangkutan telah memberikan saya ceramah panjang lebar dan dari nada bicaranya dan pandangan matanya memberikan isyarat bahwa dia sangat kesal dengan saya. Padahal belum lengkap kata-kata saya keluar dari mulut.

Pak Dokter memanggil saya KAMU. "Apa alasan KAMU ?". Meskipun sedikit risih tapi saya berusaha untuk sabar. Jadi sepanjang 20 menit itu habislah saya diceramahin. Jawaban pendek saya yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menutup mata bahwa antara para dokter juga ada perbedaan pendapat berbuntut kepada cerita ttg siapa saja yang tidak setuju dengan Vaksin MMR termasuk menyebut seorang professor.

Di ujung pembicaraan saya hanya berkata "baiklah Dok saya akan belajar lagi soal ini maklum kedokteran bukan bidang saya namun Common Sense Logic saya bisa menerima kalau MMR bisa saja berpengaruh kepada sebagian kecil pasien. Di forum ini saya butuh masukan yang banyak soal MMR.


Terima Kasih.


Rudy Firmanto



Pak Rudy,

Baru saja saya coba search di Google tentang MMR vaccine. Banyak publikasi yang bermutu (dikeluarkan oleh Depkesnya Amerika, jurnal2 kedokteran ternama, ikatan dokter anak Amerika/AAP, dan berbagai sekolah kedokteran yang baik) yang membahas mengenai MMR dan autisme. Salah satunya ada website tentang keamanan vaksin (www.vaccinesafety.edu). Berikut saya coba copy headlines dari website tsb. Text lengkap dapat diakses dengan link dari website tsb.

MMR/MEASLES VACCINE

MMR Vaccination and Pervasive Developmental Disorders: no association. Smeeth, et al report that MMR vaccination is not associated with an increased risk of pervasive developmental disorders (PDDs). The authors studied 1294 affected children and 4469 controls in the General Practioners Database in the United Kingdom and "We have found no convincing evidence that MMR vaccination increases the risk of autism or other PPDs". (09-15-04) PubMed Abstract Lancet Institute of Medicine reports that MMR and thimerosal do not cause autism. The IOM committee concluded that the body of epidemiological evidence favors rejection of a causal relationship between the MMR vaccine and autism and between thimerosal-containing vaccines and autism. [link] May 17, 2004 Authors Retract Controversial Interpretation of 1998 Lancet Paper Linking MMR Vaccine to A New Syndrome of Bowel Disease and Autism. Statements from the authors and the Lancet editor. March 6, 2004

Investigations Reveal an Unreported Conflict of Interest and Problems With Reporting in Wakefield's 1998 Autism-MMR Study. Information on the investigation by The Lancet into problems with Andrew Wakefield's study. February 27, 2004.

Measles, Mumps, and rubella vaccination and bowel problems or developmental regression in children with autism: population study. This paper by Taylor et al in the [Feb 16 2003] BMJ adds to the growing body of evidence that show no involvement of MMR vaccine in the development of autism. The authors report on their investigation of 473 and conclude that their data shows neither a "new variant' form of MMR-associated autism nor evidence of MMR contributing to the onset of autism. BMJ 2003;324:393-6. PubMed Abstract BMJ MMR and autistic enterocolitis: consistent epidemiological failure to find an association. In a News & Commentary in Molecular Psychiatry [Feb 2003], Fombonne and Cook review a recent paper by Taylor et al on MMR and Autistic Enterocolitis. Fombonne and Cook review Taylor's paper as well as the hypothesis by Wakefield et al that speculated about a connection between MMR and autism and ask, "How many more well-powered epidemiological investigations ... will be necessary for this hypothesis to be completely discarded?". Molecular Psychiatry 2003;8:133-4

A Population-based study of Measles, Mumps and Rubella Vaccination and Autism. A Danish study provides strong evidence against a causal relationship between MMR vaccination and autism. Madsen et al. NEJM 2002;347(19):1477-82. PubMed Abstract NEJM

The risk of seizures after receipt of whole-cell pertussis or measles, mumps, and rubella vaccine. Barlow WE et al find no long-term adverse consequences from febrile seizures following administration of DTP and MMR vaccines. NEJM 2001;345(9):656-61. PubMed Abstract NEJM

Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autistic Spectrum Disorder: Report From the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 2001;107(5). Halsey, Neal A.; Hyman, Susan L. The writers of this report reviewed over 1,000 references in the medical literature and determined that the available research does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism, autism spectrum disorders or inflammatory bowel disease. A complete copy of this report is available in the online version of Pediatrics at http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/abstract/107/5/e84.

PubMed Abstract Institute of Medicine (IOM) Committee Rejects Causal Relationship Between Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autism Spectrum Disorder At a public briefing on April 23, 2001 the Institute of Medicine's (IOM) Committee on Immunization Safety Review released a report in which they conclude that the evidence favors rejection of a causal relationship between the measles-mumps-rubella (MMR) vaccine and autism spectrum disorder, commonly known as autism.

The full text of the report is available at http://www.iom.edu/report.asp?id=4715

Evidence shows genetics, not MMR vaccine, determines autism (AAP News December 1999) by Charles G. Prober, MD, FAAP.

No evidence for measles, mumps, and rubella vaccine-associated inflammatory bowel disease or autism in a 14-year prospective study. (Lancet 1998;351:1327-8) (5-02-98) This Finnish study shows details of the 31 children who developed gastrointestinal symptoms after approximately three million were vaccinated. Dr. Peltola et al, after more than 10 years following adverse events associated with MMR vaccine, found no data showing an association between MMR vaccine and developmental disorders or inflammatory bowel disease.



Mungkin sebelum mempercayai suatu pendapat, ada baiknya kita belajar banyak terlebih dahulu. Jangan percaya publikasi yang tidak jelas atau kurang dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan imunisasi ada di tangan orangtua, dokter hanya mengarahkan. Bagaimana pun juga, imunisasi itu perlu persetujuan orangtua (informed consent), termasuk menyetujui risiko2 (bila ada) yang mungkin terjadi akibat imunisasi. Kedokteran memang mungkin bukan bidang anda, tapi sebagai konsumen yang baik, tentu anda punya rasa ingin tahu agar bisa berdiskusi dengan efektif dengan dokter anda sehingga hasil pengobatan dapat optimal.

Semoga membantu.


Endah


Pak Rudy, sebenarnya dukun anak dikau nggak perlu gitu sewotnya sama dikau selaku ortu anak, soal jadwal imunisasi on schedule itu kan masalah hasil study epidemiologis semata. Kalo anak dikau belon di vaksin, kan tinggal diusulkan untuk dilakukan semata. Mengajak konflik dengan ortu anak nggak ada manfaatnya :).

eddyJP
Personal ID: eddyjp@cbn.net.id

Ya begitulah Pak...

Kalau sebagian dokter "professor S " yang disebut dokter saya juga berpendapat bahwa ada pengaruhnya,...apalagi saya yang gak punya background kedokteran.

Anyway saya akan banyak belajar masalah ini..

RF

Sabtu, 08 April 2006

Mohon Pencerahannya

Dear All Mohon maaf , saya calon bapak baru yang awam Mohon Penceraham Pembaca Kl orang Hamil muda sekitar 2 bulan. Boleh tidak bepergian dengan naik motor........? Ada yang bilang tidak boleh naik motor.dan ada juga yang memperbolehkan nya. Karena ketidak tahuan saya tentang hal tersebut berefek Silahturahmi kepada Mertua Yang jaraknya CIGANJUR - KEBAYORAN Sudah tidk terlaksna. Karena Ada perasaan takut dan khawatir terhadap kandungan istri saya jika naik motor kena goncangan-2 Mohon pencerahan neters semuanya Salam tonce

Sharing ya Pak,

Trisemester I kehamilan saya dulu beberapa kali naik motor dan alhamdulillah ndak ada masalah Pak. Boleh dibilang selama hamil, saya termasuk yg ndablek dan kl temen2 blg sih "hamil kebo" he he he ...

Tapi kl diliat dr pengalaman beberapa teman2 saya, beberapa dr mereka tdk cukup kuat utk naik motor pada dan selama masa kehamilan ... Entah itu karna rahim yg lemah atau disebabkan hal lainnya ...

Saran saya, coba bpk periksakan ke DSOG dan mintai pendapat blio, apakah kondisi kehamilan Ibu memungkinkan untuk naik motor? Dan kl memang jarak yg ditempuh cukup jauh (Ciganjur - Kebayoran jauhhhhhhh lho pak), meskipun secara fisik kita kuat dan kehamilan pun nda ada masalah, menurut saya cukup beresiko lho :-) ... Kalaupun memang ndak bisa naik kendaraan umum lainnya (mungkin karna repot ataupun Ibu ndak kuat karna hamil muda), ya acara silahturahmi di tunda dulu sampai kondisi Ibu memungkinkan dan saya yakin mertua Bpk pasti memaklumi keadaannya ...

Kl buat saya sih, yang penting niat baik kita utk bersilahturahmi itu sdh ada di dalam hati dan terhambat karena keadaan diluar kuasa kita, Insya Allah niat baik itu sdh dicatat dan di ketahui oleh Allah SWT ... Saya yakin, semua hal yang baik akan berbuah kebaikan juga :-) ...



salam,
Lia

*maaf kl ada yg krg berkenan*

Sabtu, 25 Maret 2006

susah makan


dear pak/ibu dokter,

putri kami yang baru berumur 8 bulan susah sekali makan, seminggu ini bahkan bisa dikatakan tidak makan. nutrisi-nya hanya dari minum susu saja. sedangkan pada umur 5 - 7 bulan nafsu makan besar, makan bisa rutin 3x sehari.

apakah memang begitu pada bayi usia 8 bulan ? atau karena mo tumbuh gigi ya, soalnya apa saja barang yang ditangannya selalu dimasukan kedalam mulutnya.

mohon pencerahan atau tips & trik, bagaimana agar nafsu makannya normal
kembali.


regards

ayah shafa

Selasa, 14 Februari 2006

Hydrogel

Dear Dokters & parents,

Saya anggota baru di group ini, dan saya membutuhkan informasi dari
para dokter & orang tua di group ini mengenai hydrogel. Masalahnya anak saya yang baru berumur 3 bulan (laki-laki) didiagnosa (bulan lalu) terdapat hydrogel di buah pelirnya. Dokter kami menyarankan akan mengobservasi sampai anak kami berumur 1 tahun untuk mengetahui apakah perlu operasi untuk mengeluarkan air tsb atau tidak. saya sangat membutuhkan informasi mengenai hydrogel ini baik sebab2nya, cara merawatnya, pengobatan maupun pencegahannya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

-Kristin-

Senin, 06 Februari 2006

Perlindungan penyakit Mata

Yth Dokter Saya berdomisili di banyuwangi, Jatim Kebetulan saat ini penyakit mata sedang mewabah di sini Sampe obat tetes mata habis di apotik2x

Nah kemarin siang ( Minggu 5 Feb 2006 ) saya terkena nih Baru dapat obatnya hari Senin ( Cendo Xitrol ) Yang saya khawatrikan adalah 2 anak saya Jason ( 5 th ) sudah sekolah di TK A Jordan ( 6 bulan )

Langkah2x apa yg saya bisa lakukan untuk mencegah anak saya tertular ? Soalnya kalau pake obat mata saya pasti perih kalau udah kena makanya lebih baik saya ber jaga2x dulu supaya tidak ketularan Soalnya menurut Dokter yg memeriksa saya penyakit ini menular via udara Saat ini saya membatasi kontak dengan 2 anak saya ( duh yg susah yg anak pertama soalnya manja sekali ama saya )

wass
Papanya Jason & Jordan


======================================================
Dear All,.
Saya mo sharing,..pengalaman saya bulan lalu,..terkena sakit mata juga. Saya bukan dokter tapi pernah membaca artikel ttg sakit mata ini penyakit ini mudah sekali menular,...repotnya kalo anak-2 yg kena. karena akan sulit memberikan obat matanya. pencegahan nya :

1. lebih sering mencuci tangan,..dengan sabun / antiseptic. karena tangan kita akan sering sekali digunakan untuk membersihkan mata, dan tanpa kita sadari,..tangan tersebut sudah terkontaminasi.

2. air di bak mandi diberi antiseptic (detol),..karena tangan / anggota tubuh kita sudah terkontaminasi juga.

3. lap bagian bagian rumah yg sering kita sentuh tangan, handle pintu/handle toilet, ..dgn menggunakan larutan antiseptic.

4. mata yg merah..akan terasa gatal...jangan sekal- kali menggaruk / mengucek mata,...karena akan menimbulkan iritasi bila sudah terjadi iritasi...bila ditetesi obat akan terasa sangat perih,..(padahal obatnya tidak perih).

salam
Dani


======================================================
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Saya juga bukan dokter, tapi pernah mengalami dan sembuh, tapi jika ada yang salah silahkan dikritik :
1. Coba obatnya diganti Cendomycin, obat ini tidak pedih tapi sering cocok.
2. Usahakan pakai kacamata(hitam jika perlu, dan sering-sering dicuci sampai bersih) untuk jaga mata sendiri dari debu dan untuk mencegah penularan terhadap putranya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
==================================================
Yth All

Terimakasih, buat masukannya

sementara ini si kecil Jordan saya karantina di kamar. Nah yg susah si kakak Jason kayaknya mata udah mulai memerah ..... soalnya cari cari papanya terus :) apa ada masukan obat mata apa yg cocok dan tidak pedih di mata untuk dosis anak kecil ? Jason umur 5 th berat badan sekitar 18kg

Apakah Cendomycin bisa dipakai ?

wass

Papa nya Jason & Jordan

Kamis, 02 Februari 2006

obat biang keringat amat sangat!

ada yg tau ga cara cepat ngilangin biang keringat yg amat sangat gatal terutama buat anakku yg umurnya 1 thn 3 bln? perlu di ketahui anak saya suka sekali makan ikan salmon dan keju,apakah gara2 makanan itu yg menyebabkan biang keringat? berat anakku 12 kg tinggi 83 cm...trus kalo siang selalu pake baju yukensi..tolong pencerahannya dong,kasian anakku biang keringatnya bener2 merah2 dan gatal... makasih sebelumnya...
====================================
Mudah2an pengalaman saya bisa membantu,gunakan saja bedak racikan dr. Asril, belinya hanya di apotik RS. Bunda, karena dr. Asril dokter anak di situ. Semua teman dan kerabat saya, ternyata cocok pakai bedak itu. Harganya murah..dulu harganya 10.000 1 dus, silahkan dicoba.
===================================================

Pengalaman saya, saya pakai minyak kelapa (dibuat sendiri dari santan kental yang direbus sampai mengeluarkan minyak) atau dapat juga VCO (bisa dibeli di mana-mana), lebih aman dan biasanya bisa sembuh.

Jika sedang malas membuat saya hanya pakai minyak telon yang kandungan minyak kelapanya 60% (merek "Cap Tiga Anak" hanya ada di Jogja). Minyak telon merek lain tidak cocok, terlalu panas karena kandungan minyak kayu putihnya terlalu tinggi.

Semua itu atas anjuran ayah saya (seorang DSKK). Semoga pengalaman saya dapat membantu.....

Salam
Anti

===================================================
coba pake bedak salicyl, campur dengan air seperti bedak dingin. ke anaknya juga jadi berasa sejuk. sebaiknya di pakai kan menjelang mau tidur. tapi di pakaikan sehari-hari juga ngga apa2 semoga bermanfaat.

yudhi
=========================================================
Dear Mba Fitri ...

Bisa diobservasi dulu apakah merah2 dan gatalnya itu karena alergi atau bukan ... Dicoba aja makan ikan salmonnya dulu (dlm 1 atau 2 hari) dan dilihat apakah merah2 dan gatalnya itu timbul atau tidak ... Kalau memang tidak, gantian coba makan keju dan lihat juga apakah ada efek samping atau tidak ... Atau bisa juga anak mba tdk kuat dg udara yg panas, shg sering berkeringat dan menyebabkan merah2 dan gatal ...

Biasanya sih kalau memang alergi bisa lgs kelihatan efeknya ... tapi kl saya biasanya hrs tunggu 1 hari baru muncul merah2 dan gatal (kebetulan sy alergi makan udang yg berukuran besar :-d) ...Kalau memang alergi, obatnya ya cuma sebisa mungkin untuk menghindarai pencetus/penyebab alergi tsb ... Kl bukan karena makanan tsb diatas tapi dikarenakan anak mba tdk kuat dg udara panas, plg tdk hrs sering2 diganti bajunya, trus dilap dg handuk yg lembut ...

Moga membantu ...


Salam,
Lia





Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost